Minggu , 17 Desember 2017
Home / Showbiz / Rilex / PADA MULANYA ES BATU, LANTAS MENJELMA ES PUTER DAN ES KRIM

PADA MULANYA ES BATU, LANTAS MENJELMA ES PUTER DAN ES KRIM

Jakarta,channelsatu.com:Sekarang ini, di Jakarta, masih adakah es puter yang dulu dijajakan secara sederhana menggunakan gerobak kecil dari kampung ke kampung, dengan gong kecil yang berbunyi : dung dung, sebagai alat pemanggil?  Terus terang  saat ini jarang ditemui lagi.

Tapi jika Anda ke pusat perbelanjaan Lotte  Kelapa Gading, Jakarta Utara,  siapa sangka, di tempat tersebut  terdapat gerai Favorit Es Puter. Langsung saja saya mencicipi, maklum  ingat masa lalu. Apalagi setiap orang selalu dan pasti memiliki kenangan tersendiri maupun kesan yang tidak dapat dilupakan.

Saya mencicipi es puter bermerek Favorit rasa coklat, yang kata Yuan Simon, penjual sekaligus pemilik gerai itu, ada sembilan rasa.  Benar-benar terasa sekali  lezatnya aroma coklat yang menyatu dengan santan, air kelapa yang diendapkan, dan butiran es pun masih menempel di lidah. Sehingga ingatan kenangan terkuak kembali, saat masih kecil, di sebuah  kota kecil yang tidak jauh dari Surabaya, Jawa Timur,  pada siang hari merengek kepada ibu untuk dibelikan es puter alias es dung-dung.

Es Puter atau juga dikenal es dung-dung, karena untuk mengundang pembeli dengan menyembunyikan gong kecil. Maka begitu terdengar bunyi gong : dung dung  dari kejauhan, saya bersama teman-teman, saat masih kecil, langsung berlari memanggilnya.

Sayang suasana  demikian tidak dijumpai di Lotte Kelapa Gading pada gerai Favorit Es Puter, tidak dijajakan keliling. Sebagaimana  zaman dulu yang berjualannya malah masuk-masuk kampung, sebaliknya Favorit Es Puter menempati suatu areal  kecil dengan dekor yang cukup mencolok.  Jika  Anda berbelanja dan memutari  ruang Lotte Kelapa Gading, memang gampang dicari.

“Sebelumnya saya menjual es puter secara galon. Untuk permintaan pesta ulang tahun, acara arisan serta perkawinan.  Tapi akhirnya saya pun berfikir, bagaimanapun perlu meluaskan penjualan, alih-alih supaya es puter saya  makin dikenal, “ ucap Yuan Simon.

Yuan Simon memasang label Favorit pada es puter produksinya. Dan memproduksi di rumahnya yang tidak jauh dari Lotte Kelapa  Gading.  Dalam memproduksi, Yuan Simon masih melakukan cara lama, paling tidak mempertahankan nilai tradisi yang termasuk unik.

Yakni dakam pembuatan es puter Favorit ini, bahan-bahannya,termasuk coklat,  dijadikan satu dalam wadah tong, terus wadah itu  diputar-putar paling tidak satu jam penuh.  Cara ini dilakukan, sebab dulu belum ada mesin pencampur.  Hal inilah yang membedakan es puter dengan dengan es krim.

Cara pembuatan es krim sudah menggunakan mesin pencampur, karenanya hasilnya  begitu lembut. Sementara es puter apabila pembuatannya dengan diputar-putar, tentu hasilnya agak kasar, tidak selembut es krim yang dibuat dengan mesin pencampur.Tetapi perbedaan yang mencolok   es krim dengan es puter adalah bahan baku utamanya.Kalau es krim  bahan baku utamanya susu, sedangkan es puter menggunakan santan. Sedangkan bahan lain seperti coklat itu hanyalah menambah rasa, termasuk rasa mangga atau duren.

“Saya memperoleh teknik pembuatan es puter ini dari mertua. Jelas ada teknik-teknik tertentu dalam memutar, supaya aroma rasanya menyengat sewaktu dirasakan, “ucap Yuan Simon yang juga mengatakan bahwa mertuanya tinggal di Semarang adalah pembuat dan  memiliki gerai roti.“ Hanya beberapa gerai saja.“ 

Usut punya usut terjadinya es puter maupun es krim sesungguhnya bermula dari es batu. Sejarah mencatat begitu bahwa pada awalnya es batu, lantas menjelma menjadi es puter dan es krim. Memang semuanya itu tidak terlepas dari bangsa Eropa yang datang ke Batavia. Ketika bangsa Eropa datang ke Batavia pasti mesti beradaptasi terhadap iklim tropis.

Bangsa Eropa  pasti sangat membutuhkan pendingin dari hawa panas yang benar-benar membuat mereka gerah dan keringat terus menetes. Salah satu untuk mengatasi kondisi semacam itu, salah satu cara dengan mengkonsumsi es batu. Es Batu kala itu memang menjadi barang mahal, sebab belum bisa diproduksi di Batavia.

Jangan kaget pada waktu itu dilakukan impor es batu dari Eropa. Teknologi medern yang telah berkembang di Eropa belum merambah tanah Hindia Belanda. Baru sekitar tahun 1870,  pabrik es batu pertama berdiri, yaitu Pabrik Es Petojo, berlokasi di Prapatan, di pinggir Sungai Ciliwung.

Informasi lengkap tentang keberadaan Pabrik Es Petojo tidak banyak diketahui,siapa pendirinya dan bagaimana pengelolaannya tidak ada dokumen sama sekali. Tapi kenapa didirikan dekat sungai Ciliwung, hal ini bisa dimengerti. Lantaran berkaitan dengan bahan mentah yang dibutuhkan pabrik es. Pada masa itu air  Ciliwung masih sangat jernih dan menjadi sumber air minum warga Belanda. Inipun informasinya sulit didapat.

Tio Tek Hong  menulis dalam bukunya tentang kenangan kondisi Batavia tahun 1882-1959,  diceritakan bahwa setelah  berdiri pabrik Es Petojo, tidak beberapa lama kemudian berdiri pabrik es yang diurus oleh orang Belanda bernama Batten. Pabrik es ini berada di dekat Pintu Air di Belakang Bioscope, Capitol, daerah Pasar Baru.

Pada waktu itu harga es tiga sen se –pond dan dijual serta dijajakan oleh anak-anak ke kampung kampung. Selain es batu, pabrik itupun mengolah air kelapa yang dikeraskan dan diberi pegangan dari bambu, seperti sate es air kelapa, begitu pada waktu itu orang-orang menyebut. Dalam perkembangan berikutnya, sudah sangat jelas, betapa semuanya itu berawal dari es batu, terus menjelma  menjadi es puter dan es krim. (Syamsudin Noer Moenadi,  jurnalis dan pemerhati masalah kuliner.) Foto: ilustrasi.

About ibra

Check Also

Pantai Tanjung Tinggi, Belitung. Foto: Ilustrasi.

Diusulkan Pantai Tanjung Tinggi, Belitung, Masuk Global Geopark Network

Jakarta, channelsatu.com: Tahun 2012, Global Geopark Network menetapkan Gunung Batur di Kabupaten Bangli, Bali menjadi …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *