Sabtu , 11 Juli 2020
Home / Hot News / Nasional / KURIKULUM 2013 SEBAGAI INOVASI, DAN PENDIDIKAN PEMERDEKAAN

KURIKULUM 2013 SEBAGAI INOVASI, DAN PENDIDIKAN PEMERDEKAAN

Jakarta, channelsatu.com: Sejak wacana pengembangan kurikulum 2013 digulirkan, tanggapan pro dan kontra dari berbagai kalangan (pakar, praktisi pendidikan serta masyarakat lain) mencuat gencar. Wacana pro dan kontra ini justru memperlihatkan betapa pemangku kepentingan memiliki kepedulian yang demikian penting terhadap pembangunan sistem pendidikan di negeri tercinta ini dalam menyiapkan generasi emas.

Pemangku kepentingan tidak menutup diri mengenai pro dan kontra itu. Justru semakin banyak kritik maupun saran tentang kurikulum 2013, diharapkan lebih mematangkan kurikulum yang sedang dikembangkan. Generasi emas yang disiapkan akan memasuki perkembangan global yang kian kompetitif dan berorientasi pada keunggulan.

Pengembangan kurikulum 2013 menitikberatkan pada penyederhanaan, pendekatan tematik intratif dilatarbelakangi oleh permasalahan kurikulum 2006 yang arah konten kurikulum terlalu padat dengan banyaknya mata pelajaran. Juga banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat anak.

Kurikulum 2006 belum sepenuhnya berbasis kompetensi yang sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, ketrampilan dan pengetahuan. Beberapa kompetensi yang dibutuhkan dengan perkembangan kebutuhan, (misalkan pendidikan karakter, metode pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belumlah terakomodasi.

Kurikulum 2013 sebagai inovasi mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan masa depan melalui pengetahuan, ketrampilan sikap dan keahlian untuk beradaptasi serta mampu bertahan hidup dalam lingkungan yang senantiasa berubah.

Pengembangan kurikulum adalah sebagai salah satu bentuk inovasi pendidikan. Suatu inovasi apapun sertamerta menjadi sasaran penerima inovasi, dalam hal ini pendidik dan tenaga kependidikan begitu saja menerima atau mengadopsi inovasi tersebut, merupakan suatu hal yang wajar. Teori inovasi menyebutkan, inovasi bisa terwujud jika memenuhi karakteristik inovasi.

Semua itu memerlukan implementasi. Kurikulum 2013 sesungguhnya adalah pendidikan pemerdekaan (istilah yang dicuatkan sosok almarhum Romo Mangun) Menurut almarhum Romo Mangun, tugas pendidikan alias sekolah ialah menghantar dan menolong peserta didik untuk mengenali serta mengembangkan potensi dirinya supaya menjadi manusia yang mandiri, dewasa, utuh, manusia merdeka sekaligus peduli.

Selain  menjadi manusia solider dengan sesama manusia lain dalam ikhtiar meraih kemanusiaan yang makin sejati, dengan jati diri, citra diri yang kian utuh, harmonis serta integral. Pendidikan harus diarahkan kepada proses emansipasi mitra didik. Non multa sed multum, bukan yang tahu banyak namun yang tahu mendalam, begitu adagium Romawi klasik.

Yang multum, tahu mendalam, tidak muncul dalam sistem drill dan hapalan. Suatu sistem yang mendasarkan diri pada drill dan hapalan belaka hanya menumbuhkan yang multa, tahu banyak, tetapi tidak mendalami siap pakai dalam arti siap disuruh. Pendapat almarhum Romo Mangun itu layak disikapi dalam memaknai kurikulum 2013.

Salah satu ciri kurikulum 2013  yaitu adanya perubahan proses pembelajaran yang semula dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu. Selain itu, akan merubah pula proses penilaian yang semula output menjadi berbasis proses dan output. Lantas untuk mewujudkan perihal tersebut, tentulah menggulirkan konsekuensi dengan adanya penambahan jam pelajaran.

Di banyak negara penambahan jam pelajaran tidaklah dipungkiri seperti di Amerika Serikat dan Korea Selatan. Apabila dibandingkan dengan negara lain, jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat. Kendati pembelajaran di negara Finlandia relatif singkat, tetapi didukung dengan pembelajaran tutorial.

Sekali lagi, semuanya itu tergantung implementasi kurikulum yang dalam masalah ini ujung tombaknya adalah guru. Guru jelas garda terdepan dalam pelaksanaan kurikulum. Oleh karena itulah betapa pentingnya kesiapan guru dalam mengimplementasi kurikulum, selain masalah kompetensi, komitmen, tanggungjawab dan kesejahteraannya yang harus terjaga.

Kompetensi guru bukan saja menguasai apa yang harus dibelajarkan, tapi bagaimana membelajarkan siswa menantang, menyenangkan, memotivasi, menginspirasi dan memberi ruang kepada siswa untuk melakukan  proses, yaitu mengobservasi, bertanya, mencari tahu dan merefleksi.

Kurikulum penting, tapi yang tidak kalah pentingnya juga yakni strategi membelajarkan dan spiritnya. Dengan strategi pembelajaran yang tepat dalam mengimplementasikan kurikulum disertai dengan spirit pendidikan yang menggelora pada setiap guru atau pendidikan dan peserta didik, maka proses pendidikan itu sendiri tidak terlepas dari  rohnya.

Metodologi tidak kalah pentingnya dibanding dengan subtansi. Betapapun baiknya kurikulum yang telah dikembangkan, buku pelajaran, media pembelajaran disediakan serta dilaksanakan diklat baik Kepala Sekolah, Pengawas, Guru Inti, Guru Pelatih maupun diklat guru secara massal, pada akhirnya terpusat pada ada tidaknya kemauan untuk berubah dari para pemangku kepentingan pendidikan.

Percayalah, semua siap untuk berubah. Kurikulum 2013 dilaksanakan seratus persen di sekolah pada tahun ajaran 2014, yaitu SD kelas 1, II, IV, V, dan SMP kelas VII dan VIII, serta SMA dan SMK kelas X dan XI. Seluruh sekolah di Indonesia yang total berjumlah sekitar 280 ribu akan menerapkan kurikulum 2013.

Maka pihak pemangku kepentingan sudah selayaknya untuk mendukung rencana tersebut. Saat ini materi pelatihan sudah disiapkan (pelatihan guru akan digelar Maret – Juli 2014). Guru SD–SMA yang dilatih sebanyak 1,1 juta guru termasuk kepala sekolah dan pengawas sekolah.

Hasil sensus yang dilakukan pihak pemangku kepentingan pendidikan diperoleh data ada 6.300 sekolah di seluruh provinsi yang sudah menetapkan kurikulum. Mengenai keberhasilannya pelaksanaan kurikulum 2013 kiranya tidak hanya diserahkan kepada pemerintah pusat. Pemerintah Daerah juga harus mengambil peran aktif dalam mengimplementasikan kurikulum 2013.

Jadi apa yang dapat disimpulkan mengenai kurikulum 2013? Semua itu tergantung pada implementasinya. Dan semuanya itu tergantung siapkah kita untuk berubah? Siap berubah! (Syamsudin Noer Moenadi, jurnalis senior, esais, Redaktur channelsatu. com) Foto: Ilustrasi.

About ibra

Check Also

Foto: ist.

Kemenparekraf dan Kemenkes Sepakat Kembangkan Wisata Kesehatan di Indonesia

Jakarta, channelsatu.com: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sepakat …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *