Rabu , 27 Mei 2020
Home / kuliner / Kalah Bersaing, Bir Pletok Dilestarikan

Kalah Bersaing, Bir Pletok Dilestarikan

Bir Pletok. Foto: Ilustrasi.
Bir Pletok. Foto: Ilustrasi.

Jakarta, channelsatu.com: Meskipun menyandang predikat bir, minuman tradisional Betawi ini tidak memiliki kandungan alkohol sama sekali. Justru minuman yang dinamakan Bir Pletok berkhasiat untuk memperlancar peredaran darah. Masyarakat Betawi banyak mengonsumsi pada malam hari untuk menghangatkan badan.

Terbuat dari rempah-rempah alami seperti jahe, secang, cengkih serta  kayu manis Bir Pletok memang memberi efek hangat di badan. Konon minuman ini tercipta dari kebiasaan orang Belanda kumpul-kumpul di malam hari sambil mengonsumsi bir pada era kolonial.

Kebiasan itulah  kemudian diadopsi masyarakat Betawi dengan menciptakan minuman penghangat tubu. Begitulah masyarakat Betawi punya cerita. Betawi, masyarakat asli kota Jakrta, kini mereka umumnya berada di pinggiran Ibukota Republik Indonesia, memiliki budaya, tradisi dan kebiasaan yang serba menarik untuk dicermati.

Tidak terkecuali dengan Bir Pletok yang kini susah dicari. Awalnya Bir Pletok dinikmati dalam gelas bambu dengan es batu. Suara pletok pletok yang dihasilkan dari bir dan es batu yang dikocok akhirnya mengispirasi nama minuman ini. Ya, pletok adalah bunyi es yang beradu dengan gelas bambu sebelum disajikan.

Dulu hampir di setiap warung dan pedagang kaki lima yang menjual makanan minuman selalu menyediakan Bir Pletok bersama dengan makanan khas Betawi lainnya, seperti kerak telor dan Soto Betawi. Kawasan Monas merupakan salah satu tempat dijajakan Bir Pletok, tapi sekarang ini hal itu merupakan masa lalu. Kini kawasan Monas sudah bersih, tertib , rapi dan pedagang makanan minuman pun dipindahkan ke tempat lain yang menjadikan Bir Pletok menghilang begitu saja dari peredaran.

Sekarang ini mencari Bir Pletok betul-betul susah. Padahal Jakarta dibanjiri restoran dan warung dengan tawaran menu dari berbagai daerah di Indonesia dan dari mancanegara. Untuk mencari Bir Pletok harus pergi jauh, yakni ke Setu Babakan, kampung budaya Betawi di Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Di tempat itulah menu-menu tradisional warga asli Jakarta ini dipertahankan.

Praktis Bir Pletok hanya dilestarikan. Tidak diproduksi secara industri, semacam minuman teh atau kopi. Minuman Bir Pletok kalah bersaing dengan minuman lain yang lebih modern kemasannya, seperti lemon atau susu. Berbeda dengan minuman masa kini yang dikemas menarik itu, demikian gencar beriklan di televisi. Sebaliknya Bir Pletok tidak ramai dipasarkan alias sepi dan senyap dalam peredaran. Ringkas kata Bir Pletokl kalah bersaing.

Sejak tahun 2000 Bir Pletok sulit ditemukan. Kalau ada hanya pada saat acara adat Betawi, seperti Haul, Sunatan dan Pernikahan. Soalnya Bir Pletok ini adalah hidangan wajib pada ucapara adat Betawi. Selain di Setu Babakan, saat ini hanya di daerah tertentu Bir Pletok dijual, yaitu di warung kecil di pinggiran rel kereta api,  masuk dari Jalan KS Tubun, Petamburan, dan di Kedoya, Jakarta Barat.

Bir Pletok yang dijual di warung kecil di pinggiran rel kereta api itu, berbagai merk dan entah siapa yang memproduksi. Tapi yang laku bermerk Ondel-Ondel. Menurut Bahruddin pemilik warung, Bir Pletok macam –macam merk itu produk rumahan. Terkecuali merk Ondel-Ondel yang diperoduksi Haji Herman Sani dan sudah dipatenkan.

Warna Bir Pletok bermacam  merk itu merah sekali, sangat mencolok.
“Kayu secang yang membuat warna bir menjadi merah. Namun bahan dasarnya tetap sama, yaitu jahe, sere dan kapula,“ tutur Bahruddin.  Sedang warna merah pada Bir Pletok merk Ondel-Ondel tidak terlalu mencolok.

Sedangkan Bir Pletok yang dijual di Kedoya, Jakarta Barat, di sebuah warung seluas hampir 200 meter, di Jalan Adhi Karya, Nomor 1, RT 07/RW05 bermerk Afifah, nama pemilik warung yang sudah lebih 20 tahun  membuat Bir Pletok. Bir Pletok merk Afifah juga sudah dipatenkan, setiap harinya bisa terjual 120 botol, sehingga dalam satu bulan meraup  penghasilan 7-8 juta rupiah. Pemasarannya dari mulut ke mulut.

Rasa Bir Pletok  memang soft dan hangat di tenggorokan. Mirip bajigur, sekoteng, atau bandrek (minuman asal tanah Sunda). Hanya saja pada Bir Pletok rasa jahe gajah dan kayu secangnya terasa kuat. Kendati diminum dalam keadaan dingin, tetap terasa hangat di tenggorokan.

Potongan kayu secang yang menghasilkan warna Bir Pletok lebih menarik. Kayu secang inilah  dicampur jahe, daun pandan wangi, dan serai yang  berakibat minuman tersebut segar dan hangat. Minuman Bir Pletok ini  bisa disajikan dengan mencampurkan batu es. Ya, sama nikmatnya dihidangkan secara dingin maupun tanpa batu es.

Minum Bir Pletok terasa komplet jika disajikan dengan kue basah khas Betawi seperti kue Ape, kue Talam, Ketan Bakar, kue Andepite, kue Lapis Beras dan Ongol-Ongol. Dulu kalau ada acara adat Betawi, anak-anak senang melihat atraksi penjual Bir Pletok menuangkan minumannya ke teko saat dicampur es batu.

Namun semua itu tinggal kenangan dan kini Bir Pletok telah dilestarikan sejak zaman Sutiyoso menjadi Gubernur DKI Jakarta, tahun 2002, Bir Pletok kerap dihidangkan pada tamu negara asing, malah ber-tost segala dengan Bir Pletok. (Syamsudin Noer Moenadi, Jurnalis dam Pemerhati Kuliner, Redaktur channelsatu.com).

About ibra

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *