Selasa , 27 Februari 2024
Home / Talk / Gado-Gado / Jeng Ana 8 Jam Alami Mati Suri

Jeng Ana 8 Jam Alami Mati Suri

Jakarta, channelsatu.com: Angka delapan sepertinya jadi angka keramat bagi Si Ratu herbal Jeng Ana. Pasalnya di usianya yang masih belia, delapan tahun. Diakuinya ia pernah mengalami mati suri selama delapan jam.

Awalnya saat itu menurutnya mengalami sebuah penyakit yang sulit disembuhkan. Orangutanya sendiri sudah melakukan pengobatan untuk kesembuhan Jeng Ana. baik secara medis dan non medis. Tapi, semua hasilnya nihil.

Dokter ketika itu yang mengobati pemilik nama asli Ina Soviana sudah angkat tangan. Kakeknya yang mampu mengobatinya secara non medis pun tak berhasil. Kondisi Jeng Ana pun kian kritis. Puncaknya, pada malam Kamis kliwon Jeng Ana  divonis mati, bahkan nyaris saja dikuburkan.
Untunglah hal ini urung dilakukan, sebab akhirnya diketahui Ana kecil hanya mati suri selama delapan jam. Selama delpan jam itu pula ibu dua anak ini mengalami berbagai peristiwa yang menajubkan.

Diantaranya,dalam keadaan mati suri inilah ia merasa berada di sebuah istana yang sangat indah. Di istana alam gaib yang diperkirakan berada di puncak Gunung Lawu inilah Ana diajari ilmu-ilmu meracik ramuan tumbuhan, beserta khasiat dan manfaatnya.

Ia pun mengaku sempat bertemu dengan seorang lelaki bertubuh besar yang berbaju putih. Si pria ini lalu memberikan segelas air putih. “Dia minta saya minum air putih itu dan nanti kalau saya sudah sembuh insya Alloh nanti saya juga bisa menyembuhkan orang yang sakit,” tiru Jeng Ana ucapan Si pria yang ditemuinya di alam gaib.

Ucapan orang yang ditemuinya itu kini memang jadi kenyataan buat suami mantan wartawan Suprayitno  ini. Karena Jeng Ana kini sudah dijuluki Si Ratu Herbal. dan klinik pengobatan Jeng Ana sudah tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.

Ia sendiri memang lahir dan dibesarkan di tengah keluarga pengobat. Kakeknya mbah Kadam Sastro Ningrat, di percaya masyarakat Purwodadi sebagai orang yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Ayahnya yang pegawai negeri sipil juga dikenal sebagai seorang pengobat. Bedanya, sang kakek biasa mengobati pasien dengan ramuan tumbuh-tumbuhan atau sebagai pengobat herbal, sedangkan ayahnya biasa mengobati pasien hanya dengan media air putih saja.

Rupanya Ana kecil memang merupakan cucu kesayangan kakeknya, sehingga ia sering ikut membantu sang kakek dalam proses pengobatan pasien. Ana rajin sekali mendampingi sang kakek ke pekarangan rumah untuk membantu memetik tanaman obat seperti jahe, sirih, temulawak, dan kunyit putih. Tak tanggung-tanggung, Ana juga ikut membantu kakeknya meracik bahan-bahan tersebut untuk obat. Dari semua cucu-cucu Mbah Kadam, memang Ana-lah yang paling sering ikut membantu.

Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, terjadilah sebuah peristiwa yang seumur hidup tidak bisa dilupakan olehnya. Ketika itu Ana jatuh sakit dengan gejala demam tinggi. Anehnya, walau telah berobat ke dokter dan di beri ramuan tradisional, namun suhu tubuhnya tak kunjung menurun, malahan kian meninggi. Puncaknya Ana koma, bahkan kemudian dinyatakan mati.

Seluruh keluarga menangisi kepergian Ana. Untunglah ketika akan dimandikan dan disholatkan, kakeknya  muncul setelah sekian lama bertapa. Mbah Kadam nampaknya tahu apa yang terjadi terhadap diri cucu kesayangannya ini. Keanehan akhirnya memang berlangsung. Setelah diobati dan didoakan oleh kakeknya, Ana kecil kembali sadar. Ia pun menceritakan pengalamannya belajar ilmu pengobatan di istana gaib Gunung Lawu.

Tahun 2002, kakeknya meninggal tepat di hari ulang tahun Ana yang ke-20. Sebelum wafat, sang kakek berpesan kepada cucu kesayangannya ini agar meneruskan apa yang selama ini dilakukannya, yakni sebagai pengobat. Tetapi sang kakek juga berpesan, bahwa Ana tidak boleh membuka praktik sebelum umurnya 25 tahun.

Wanita kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah, 15 Juli 1977, ini akhirnya memilih hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib. Pilihan yang ditempuhnya adalah sekolah tentang herbal. Disitulah Ana belajar mengetahui lebih dalam kegunaan daun, akar, umbi-umbian, dan biji-bijian untuk mengobati penyakit. Bakatnya pun semakin terasah. Namun demikian Ana masih harus menunggu waktu untuk membuka praktik.

Barulah ketika menginjak usia 25 tahun, Ana mulai membuka praktik pengobatan herbal di Jakarta. Mulanya hanya keci-kecilan saja, seperti melayani kerabat, teman,atau tetangga dekat. Ia sama sekali tak menyangka kalau kemudian kliniknya menjadi besar dan terkenal seperti sekarang ini.

Setiap hari, tempat praktiknya selalu dipenuhi pasien yang mengeluhkan berbagai penyakit. Rata-rata pasiennya sudah berobat secara medis dan sudah memiliki vonis penyakitnya secara medis. Bahkan tidak sedikit artis-artis yang datang kepadanya untuk pengobatan herbal.

Oleh karena banyaknya yang berobat dan datang dari berbagai daerah, Ana pun mengembangkan usahanya dengan membuka cabang di daerah. Saat ini sudah ada empat cabang, yakni Bandung, Denpasar, Pekanbaru, dan Tangerang. Kemungkinan besar juga akan dibuka cabang-cabang baru di daerah lain.

sejak masih usia kanak-kanak Jeng Ana memang sudah mengenal berbagai jenis ilmu pengobatan tradisional. Pengetahuan ini diperolehnya baik secara gaib melaui hasil tirakat, maupun lewat pelajaran yang ia terima dari para gurunya

Dengan banyaknya cabang, Jeng Ana tentu tidk mungkin bisa selalu berada di semua cabang itu. Dia mengatur jadwal keberadaannya di cabang pada hari-hari tertentu yang sudah dijadwalkan. Selebihnya Jeng Ana mempercayakan penanganan pasien kepada asisten di masing-masing cabang. Kepada para asistennya ini, Jeng Ana telah membekali berbagai ilmu dan keterampilan pengobatan, sehingga kemampuannya sama sekli tidak diragukan.

klinik Herbal & Salon Aura yang kini berada di lima kota besar di Indonesia
Toh para pasien biasanya lebih suka kalau bertemu langsung dengan Jeng Ana. Karena itu minimal dua pekan sekali Jeng Ana menyempatkan diri untuk berpraktik di masing-masing cabang secara bergantian. Kebetulan Jeng Ana juga harus mengisi acara talk show tentang pengobatan herbal di stasiun televisi masing-masing daerah itu.

Jadi, jangan heran kalau jumlah pasien di klinik cabang selalu membludak setiap Jeng Ana dijdwalkan praktik di cabang itu. Toh demikian biasanya tidak semua pasien bisa ditangani langsung oleh Jeng Ana, karena terlalu banyaknya jumlah mereka.

Satu kelebihan Jeng ana, ia selalu mensyaratkan kepada mereka yang berobat untuk tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Disamping dengan racikan herbal, ia biasanya menggunakan pendekatan dengan beberapa bacaan berdasarkan Al Qur’an. Lebih dari itu, ia juga selalu meminta para pasiennya untuk cek kesembuhan penyakit lewat laboratorium dengan maksud untuk mendapatkan kepastian penyembuhan.

Kini, wanita yang semasa kecil dianggap telah mati itu telah menjadi ikon dalam dunia pengobatan herbal. Bisa dikatakan ia adalah nomor satu di Indonesia saat ini. Tak heran bila kalangan media kemudian menyematkan julukan padanya sebagai Ratu Herbal Indonesia. (ibra)

About ibra

Check Also

Pempek. Foto: ilustrasi.

Seruas Jalan di Kemayoran, Jakarta, Berderet Kedai Pempek Yang Menggoda Rasa

Jakarta, channelsatu.com: Semua pasti tahu dan bisajadi makanan favorit Anda, bahwa Pempek atau Empek-empek adalah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *