Minggu , 9 Agustus 2020
Home / Showbiz / Sinopsis / JAJANAN BETAWI ROTI GAMBANG YANG TIDAK TERGURUS ZAMAN

JAJANAN BETAWI ROTI GAMBANG YANG TIDAK TERGURUS ZAMAN

Jakarta, channelsatu.com: Saya sering sekali melewati toko roti yang berlokasi di jalan Cikini Raya,  Jakarta  Pusat. Dengan jalan kaki santai dari Kantor Pos Cikini  menuju Taman Ismail Marzuki, sesekali pula saya mampir ke toko Roti Tan Ek Tjoan untuk membeli roti gambang, yakni makanan kecil asli Betawi.

Roti gambang ini  berbentuk persegi panjang dan berwarna cokleat  dengan taburan wijen di atasnya, menurut saya enak sekali. Rasanya sangatlah khas dibanding dengan kue  lain dan saya menyukai karena ibu pun doyan. Pada pagi hari, menjelang saya berangkat sekolah, pada tempo dulu, ibu saya suka membeli kue gambang ini, dan saya mendapat jatah satu potong roti.

Demikian apabila ada waktu, entah dua minggu sekali atau sebulan sekali ibu mengajak ke toko roti Tan Ek Tjoan yang pertama kali berdiri di Bogor tahun 1921, kemudian membuka cabang di Jakarta pada 1955 hingga sekarang. Jadi toko roti Tan Ek Tjoan yang di Jakarta ini sudah 87 tahun berdiri.

Saya masih ingat ibu saya kerap pula mengajak ke toko roti Tan Ek Tjoan yang berada di Bogor, Jawa Barat,  dan kata saudara saya yang berdomisi di sana, toko Tan Ek Tjoan tetap asli, tidak berubah sebagai mana toko rotinya yang di jalan Cikini Raya itu. Artinya roti buatan Tan Ek Tjoan ternyata masih diidolakan masyarakat, serta rasanya juga sama sekali tak berubah.

Sejak dulu alias sejak Tak Ek Tjoan berdiri 92 tahun lalu resepnya tidak berubah. “ Ini resep warisan keluarga. Tanpa bahan pengawet dan bisa tahan hingga dua minggu. Jelas ini roti asli warisan nenek moyang, “kata karyawan dan penanggung jawab produksi  toko roti Tan Ek Tjoan, Deden.

Dikatakan warisan nenek moyang lantaran berasal dari negeri China, yang konon masuk ke Indonesia dibawa para musafir sebagai bekal saat berpergian jauh. Bahan utama roti gambang  adalah tepung terigu  serta gula aren cair tanpa tambahan air lagi. Toko roti Tan Ek Tjoan yang legendaris, begitupun roti gambang yang tidak tergerus oleh zaman,  merupakan jajanan yang patut dilestarikan.

Tidak dipungkiri menyantap roti gambang seperti menelusuri masa lalu.  Di kampung tertentu, seperti di kelurahan Sumur Batu, Jakarta Pusat, pengrajin dan pedagang yang menjajakan dengan gerobak, roti gambang bisa dijumpai. Kini, saat pagi hari, terkadang saya membelikan untuk bekal sekolah anak.  Sementara toko roti Tan Ek Tjoan, selain menjual roti gambang, menjual roti lain, yatu roti kacang mente, roti amendel dan roti cokelat poles.

Boleh dikata jajanan Betawi yang mampu bertahan dari gerusan zaman adalah roti gambang dan  dodol Betawi. Mengenai dodol Betawi yang punya tekstur alot dan warna coklat masih populer, kata lain masih disebut-sebut, di masyarakat Jakarta saat ini .

Rasa dodol Betawi sangat manis serta gurih, dan memang termasuk kuliner autentik. Cuma sayang jarang dijumpai di Jakarta, terkecuali bila Anda ke  kompleks  perkampungan Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan. Di perkampungan Betawi  Anda bisa membeli dan menikmati jajanan warisan nenek moyang sertamerta bisa melihat langsung, dari dekat,  proses pembuatan dodol yang terkenal, yakni dodol Nyak Mai. Proses pembuatan dodol itu dilakukan di atas panci besar, yang terletak tepat di depan kediaman Nyak Mai.

Pada satu sisi, terdapat jajanan Betawi yang tidak tahan terhadap gerusan zaman,  ialah makanan kecil Ali Bagente yang mirip nama orang. Makanan khas Betawi terbuat dari kerak nasi yang dikeringkan dan digoreng. Rasanya seperti rengginang, namun lebih keras dan kering.

Ali Bagante  sering dijadikan makanan pengiring saat prosesi adat masyarakat Betawi. Pada dekade 1970-an  sampai 1980-an makanan murah meriah ini  menjadi primadona  di kalangan masyarakat  Betawi keturunan Arab di Jakarta. Sekarang ini Ali Bagante  jarang  dijumpai.

 

Paling tidak masih gampang mencari roti gambang yang dijual di toko roti Tan Ek Tjoan di jalan Cikini Raya, dekat Taman Ismail Marzuki, Jakarta  Pusat atau dodol Betawi buatan Nyak Mai di kompleks perkampungan Betawi Setu Babakan, Jakarta. (Syamsudin Noer Moenadi, jurnalis dan pemerhati masalah kuliner ). Foto: Ilustrasi.

About ibra

Check Also

Ketum Pafindo dan Asisten Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Kebudayaan, Prof Agus Suradika

Ketum Pafindo Gion Prabowo, “Ini Bukan Pepesan Kosong”

Jakarta, channelsatu.com:”Kantor kita di Jakarta. Cari makan di Jakarta. Rumah kita di Jakarta. Tentu sudah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *