Selasa , 23 Mei 2017
Home / PELUANG / Hj. Anna Mariana Dinobatkan Sebagai Tokoh dan Pelopor Terhadap Budaya Betawi

Hj. Anna Mariana Dinobatkan Sebagai Tokoh dan Pelopor Terhadap Budaya Betawi

kiri kanan Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, S.H, M.S, M.S.C , Plt Gubernur DKI Jakarta Soni Sumarsono dan DR. Hj Anna Mariana S.H, M.H, M.B.A. Foto: Dudut Suhendra Putra.
kiri kanan Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, S.H, M.S, M.S.C , Plt Gubernur DKI Jakarta Soni Sumarsono dan DR. Hj Anna Mariana S.H, M.H, M.B.A. Foto: Dudut Suhendra Putra.

Jakarta, channelsatu.com: Bamus Betawi dan Forum Pemuda Betawi 2000, Kamis (9/2/2017) di Sahid Hotel Jakarta, menggelar penobatan  DR. Hj Anna Mariana S.H, M.H, M.B.A, sebagai Tokoh dan Pelopor Perempuan yang memberi inspirasi dan inovasi baru terhadap budaya Betawi, melalui gagasan dan karya ciptanya dalam dunia Tenun dan Songket, terutama lagi dari kreasinya menciptakan kain songket dan tenun Betawi.

Anna menyebut, untuk mewujudkan idenya dalam memelopori lahirnya tenun dan songket khas Betawi, ada tantangan yang harus dihadapinya. Yakni mengembangkan apa yang sudah direncanakan, membina para penenun. ”Dan yang lebih penting lagi membawa kain tenun khas Betawi lebih berkembang lagi,” ujar Anna kelahiran 1 Januari 1960 pada awak media disela acara tersebut.

Menurut Anna, pengembangan tenun dan songket Betawi dirasa perlu.  Ini bukan hanya membuka peluang kerja bagi para penenun, namun juga membuat catatan sejarah baru bagi jenis kain yang akan diproduksi di Jakarta.

Namun untuk membuka peluang kerja, bagaimana menemukan pengrajin tenun di Jakarta? Anna dengan jeli mencoba melobi sejumlah pesantren di Jakarta maupun Bali. “Kami mendidik mereka yang sudah berusia 17 tahun dan sudah hatam Al-Quran. Ilmu menenun ini bisa jadi bekal mereka untuk mandiri. Jadi mereka tidak hanya paham ilmu agama,” kata Anna yang tengah mengusulkan adanya peringatan Hari Tenun, seperti Hari Batik.

Anna juga langsung mensuport bahan baku dan peralatan yang dibutuhkan. Ia juga menampung dan membeli kembali hasil karya anak-anak tersebut. “Dengan begitu, mereka tidak sia-sia belajar sambil berkarya. Mereka dapat ilmu pengetahuan sekaligus dapat penghasilan. Kita sendiri juga akan diuntungkan, karena kita punya regenerasi baru di bidang tenun,” ungkap Ibu 4 orang anak dan isteri dari Tjokorda Ngurah Agung  Kusumayudha, S.H., M.S., M.S.C

Dalam perjalanan karirnya sebagai designer tenun, Anna melihat adanya kelangkaan dalam regenerasi penenun. Rata-rata penenun binaannya berusia di atas kepala empat, lima bahkan enam. Mungkin bagi anak muda pekerjaan menenun terasa kuno dan kurang bergengsi, terlebih dibanding bekerja sebagai pramusaji di Cafe.

“Saya berupaya membujuk mereka yang masih muda-muda untuk mau berkarya di sini. Dan menjadikan pekerjaan menenun juga memiliki gengsi sekaligus penghasilan yang memadai,” kata Anna yang berupaya menggerakan semua secara mandiri tanpa bantuan pemerintah. “Soalnya kalau nunggu pemerintah pasti ada birokrasinya, nanti malah kelamaan!”

Anna menyebut tenun dan songket yang merupakan kekayaan budaya yang sudah turun menurun, tidak boleh dibiarkan terkubur dan punah.  “Tenun dan songket itu sangat dihargai di luar negeri,  karena dalam budaya mereka tidak ada kain handmade. Semua tekstil cenderung buatan mesin dan pabrik.  Nah, kalau di depan mata kita ada kekayaan budaya langka yang dipuja-puja orang luar negeri, kenapa kita mengabaikannya? Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau berjuang melestraikannya?” celoteh Anna dalam percakapannya.

Dalam acara  ini, Anna Mariana juga memberikan Orasi Budaya, Tentang Tenun Songket sebagai Warisan Budaya Nusantara.

Anna yang berprofesi sebagai Konsultan Hukum dan membuka Law Firm Mariana & Partners ini pantas menjadi tokoh di bidang Tenun dan Songket. Ia  sudah menekuni bidang ini lebih dari 33 tahun.  Dengan awalnya hanya mengkhususkan diri di bidang Tenun dan Songket Bali, ia menciptakan motif-motif tenun dan songket baru, yang memiliki ciri khas dan corak tersendiri.
Kain kain karyanya ditenun dari beragam jenis benang. Mulai dari benang emas, benang perak, benang katun, benang sutera dan benang kombinasi.

“Saya sudah  mendesian lebih dari 3000 motif, dan sebagian besar sudah saya patenkan!” ujar Pemilik butik Marsya House of Batik Kebaya, Tenun, Songket  & Acessories  yang terletak di Pondok Indah ini.

Nah, dalam mewujudkan karyanya, Anna membina dan mempekerjakan lebih dari sejuta pengrajin di seluruh wilayah Indonesia. Mereka mempunyai keahlian  dengan hasil karya bercita seni tinggi. Mereka sudah puluhan tahun berkarir dengan tenun, sehingga sangat piawai. “Rata-rata mereka tinggal dan menetap di Bali,” kata Anna yang lahir 1 Januaari 1960.

“Dan dengan dana pribadi tanpa bantuan pemerintah, saya mengikat mereka, dengan menyediakan modal kerja. Agar ada kepastian penghasilan bagi mereka. Dan saya pun punya kepastian, bahwa hasil karya mereka saya dapatkan tepat waktu,” ujar Anna.

Kalau sekarang Anna dinobatkan sebagai Tokoh dan Pelopor gerakan budaya Betawi, memang sudah sewajarnya ia termia. Sebab, akhir tahun 2016 lalu, bersama Badan Musyawarah Betawi Anna telah mempelopori hadirnya tenun dan songket Betawi. Menurut Anna, dalam budaya masyarakat Betawi, belum pernah ada tenun dan songket. “Yang ada hanya kain batik dengan motif kembang-kembang dengan selalu ada motif Ondel-Ondel ataupun gambar Monas. Produksi ini kemudian hanya kita kenal sebagai kain dari Batik Cap, Batik Tulis, Batik Printing dan bukan tenun yang terbuat handmade!”

Karena itu, Anna Mariana yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Sejarah Kain Tenun Nusantara bersemangat mempelopori kelahiran tenun dan songket khas milik Betawi. Dalam soal design, misalnya, ia tetap mengangkat motif asli dan tidak menghilangkan ciri khas Betawi.

“Seperti kain yang saya dan suami pakai untuk acara Bamus hari ini  terdapat  motif Ondel-ondel  dengan warna kuning sirih,” ungkap Anna yang meraih gelar Doktornya pada Januari 2017.  “Sementara kain untuk para Abang dan None terdapat beragam motif, ada  Bunga-bungan, Penari Cokek, Monas dan Kembang api!”

Menurut Anna proses pengerjaan kain songket dan tenun sangat khas dan memerlukan waktu lama. Terlebih untuk menghasilkan tenun kelas premium dengan menggunakan benang sutera. “Proses pengerjaannya memakan waktu enam bulan bahkan sampai setahun. Diperlukan ketrampilan, keuletan, ketekunan dan kesabaran khusus. Karena menenun dengan menggunakan benang sutra itu rumit, oleh sebab itu pula harga songket menjadi mahal bahkan cenderung fantastis.” (Ibra)

About ibra

Check Also

Peserta workshop yang terdiri tour guide profesional anggota ASITA mendatangi Desa Adat Sade. Foto: Dok ASITA.

Di Desa Adat Sade, Lombok, Hanya Anak Bungsu Lelaki Yang Boleh Jadi Tour Guide

Lombok, channelsatu.com: Karena pemberitaan yang masif dan begitu gencar, sehingga kunjungan wisatawan nusantara meningkat secara …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *