Rabu , 14 November 2018
Home / Showbiz / Film, Musik, TV / Film Dokumenter Damai Dalam Kardus Juara di EADC 2018

Film Dokumenter Damai Dalam Kardus Juara di EADC 2018

Prescon Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2018, yang digelar, pada Rabu (31 Oktober) di bioskop CGV, Grand Indonesia Mall, Jakarta Pusat. Foto: Ki2.
Prescon Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2018, yang digelar, pada Rabu (31 Oktober) di bioskop CGV, Grand Indonesia Mall, Jakarta Pusat. Foto: Ki2.

Jakarta, channelsatu.com: Film dokumenter Damai Dalam Kardus karya Andi Ilmi Utami dan Sulaeman Nur, keluar sebagai pemenang di Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2018, yang digelar, pada Rabu (31 Oktober) di bioskop CGV, Grand Indonesia Mall, Jakarta Pusat.

“Damai Dalam Kardus” berhasil menyingkirkan empat film dokumenter lainnya, yaitu Menabur Benih di Lumpur Asmat, keluar sebagai juara kedua. Pusenai :Last Dayak Basap sebagai juara ketiga. Bioskop Kecil Harapan Besar dan Menulis Mimpi di Atas Ombak.

Film Damai dalam Kardus menuturkan kisah nyata seorang pria yang keutuhan keluarganya terpecah akibat konflik agama di Poso, Sulawesi Tengah beberapa tahun silam. Ia yang ikut ibunya yang beragama Islam, sejak kecil tidak pernah bertemu lalu berusaha mencari ayahnya yang beragama Kristen.

“Melalui film ini kami ingin menunjukkan kepada masyarakat Indonesia, melihat sebuah konflik harus melihat Poso. Poso bisa dijadikan sebagai laboratorium perdamaian Indonesia. Di Poso anak-anak muda berperan utama dalam perdamaian konflik,” terang Andi Ilmi Utami dan Sulaeman Nur selaku sutradara.

Perlu diketahui setelah melalui proses yang panjang sejak Juni 2018, mulai dari penyaringan peserta melalui juri baca, hingga juri wawancara, maka terpilihlah lima ide cerita terbaik yang mendapatkan fasilitas berupa Master Class dan pembiayaan produksi film dokumenter.

Melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjasama dengan Eagle Institute Indonesia (EII), Metro TV dan didukung oleh Artha Graha Peduli serta Bank Mayapada, dengan tema besar Menjadi Indonesia, diharapkan melalui ajang ini ditemukan sineas-sineas muda film dokumenter yang mampu memunculkan sebuah program, ide, serta gagasan audio visual demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2018 ini Eagle Institute selaku penyelenggara melakukan inovasi dengan memasang konsep Master Class. Konsep ini menjadikan partisipasi peserta bukan hanya pemula film dokumenter saja, mereka yang memiliki keahlian di bidang dokumenter dan pernah membuat film pun bisa ikut berpastisipasi. Dalam Master Class para peserta dipandu oleh mentor film dokumenter Internasional asal India Supriyo Sen dan sebagai dewan juri EADC 2018,  terdiri dari Nia Dinata dan diketuai oleh Garin Nugroho.

Berikut ini dia sinopsis kelima film tersebut adalah:

1. Pusenai The Last Dayak Basap
Sutradara     : Fajaria Menur Widowati
DOP    :  Miftahuddin
Film ini bercerita tentang Pusenai (87 tahun), seorang wanita tertua dari etnis lokal (Suku Dayak Basap) yang tinggal di Desa Teluk Sumbang, desa terluar di Berau, Kalimantan Timur yang berupaya beradaptasi dengan modernisasi pasca relokasi dari hutan ke pemukiman. Anyaman rotan menjadi media bagi Pusenai dan para perempuan Dayak untuk berkumpul dan
membahas persoalan-persoalan kehidupan mereka. Dampak globalisasi di lingkungannya
mengakibatkan ia harus mencari rotan hingga puluhan kilometer, bahkan masyarakat Dayak
Basap terancam kehilangan hutan dan jati diri mereka.

2. Menabur Benih di Lumpur Asmat
Sutradara    : Yosep Levi dan Bernad Boki Koten
Yosep Levi dan Bernad Koten menyoroti bagaimana kondisi kesehatan mempengaruhi perkembangan pendidikan. Diangkat dari cerita tentang Guru SD Yufri, Asmat, Papua, bernama Romanus. Selain mengajar, Romanus juga bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa-siswi sekolahnya. Menjadi Indonesia merupakan upaya Romanus dan keluarganya sebagai pelaku pendidikan selama 30 tahun. Dia berusaha mengatasi masalah pemenuhan gizi, mentransformasikan upaya swasembada pangan mandiri, sekaligus merevolusi mental dari kebiasaan meramu menjadi swasembada pangan untuk Suku Asmat di Yufri.

3. Bioskop Kecil, Harapan Besar
Sutradara    : Lukas Deni Setiawan & Emmanuel Kurniawan
Di tengah minimnya tontonan anak dan kurangnya akses anak terhadap tayangan yang bermutu, Rifqi Mansur Maya (Kiki) dan Hindra Setya Rini (Hindra) menggagas kegiatan pemutaran film anak yang diberi nama BIOSCIL (Bioskop Kecil Keliling). Dengan segala keterbatasannya, pemutaran dilakukan di sekolah-sekolah maupun komunitas agar anak-anak dapat menonton film yang memang dibuat untuk mereka. Dalam salah satu kegiatan pemutaran di SDN Kebonharjo, Kulonprogo, mereka berkenalan dengan Ikmah, anak tuli yang kurang mendapat perhatian dari lingkungan belajarnya sebagai anak berkebutuhan khusus. Melalui subsidi silang dan jejaring BIOSCIL, akhirnya Ikmah memiliki akses untuk belajar Bahasa isyarat yang standar dan dapat dimengerti oleh orang tuli lainnya. Persinggungan BIOSCIL dengan Ikmah merupakan salah satu kebaikan-kebaikan lain yang ikut bergulir bersama dengan kegiatan BIOSCIL.

4.  Menulis Mimpi di Atas Ombak
Sutradara     : Lutfi Retno Wahyudianti
DOP    : Gugun Junaedi
Sampai sekarang masih banyak saudara kita di belahan bumi nusantara yang tinggal di pulau
terpencil mengalami keterbatasan akses pendidikan. Film dokumenter Menulis Mimpi di Atas Ombak karya Lufti Retno Wahyudiniati akan membawa kita menelisik lebih jauh bagaimana kondisi pendidikan di pulau terpencil Polewalimandar, Sulawesi Barat. Menjadi Indonesia dalam hal ini adalah pemberdayaan pengetahuan kepada masyarakat di pulau terpencil. Upaya literasi dilakukan sebagai penghubung nilai-nilai kebangsaan.

5.  Damai Dalam Kardus
Sutradara    : Andi Imli Utami Irwan & Suleman Nur
DOP    : Nur Taqdir Anugrah
Gunawan (30), lahir dan tumbuh di tengah kerusuhan agama yang berlangsung di Poso selama lebih dari satu dekade. Kerusuhan ini tidak hanya menghancurkan kotanya, tapi juga memecah keutuhan keluarganya sehingga Ibunya yang Muslim dan Ayahnya seorang Kristiani harus berpisah. Bertahun tahun hidup terpisah dari Ayahnya,  membuat Gunawan dendam terhadap konflik agama yang terjadi di Poso. Inilah yang membawanya menjelajahi Poso bersama kardus-kardus berisi buku, menembus daerah terpapar konflik hingga ke wilayah basis teroris untuk membawa pesan perdamaian. Bersama puluhan kardusnya juga, Gunawan percaya suatu saat akan menemukan ayahnya.

Di Tiga Film terbaik tersebut pememangnya mendapatkan uang tunai ratusan juta rupiah dan kamera profesional untuk menunjang mereka dalam berkarya. Selain itu, para finalis juga mendapat fasilitasi beasiswa pasca sarjana dan bebas memilih di universitas yang diinginkan. Kelima film tersebut juga akan ditayangkan di Metro TV setiap hari mulai tanggal 12 – 16 November 2018 pukul 21.30 WIB – 22.00 WIB. (Ibra)

About ibra

Check Also

Adegan film Dear Nathan Hello Salma. Foto: ist.

Film Dear Nathan Hello Salma, Asyik Jadi Tontonan ABG, Seru Buat Yang Ingin Bernostalgia di SMA

Jakarta, channelsatu.com: Setelah sukses dengan Dear Nathan pertama yang meraup hingga 700 ribu penonton. Sekuel …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *