Rabu , 28 Juni 2017
Home / Showbiz / Rilex / Festival Sastra Banggai 2017, Rayakan Kata-Bumikan Ilmu

Festival Sastra Banggai 2017, Rayakan Kata-Bumikan Ilmu

Persiapan pentas satra bangai. Foto: snm.
Persiapan pentas satra bangai. Foto: snm.

Jakarta, channelsatu.com: Menyebut kalimat Banggai, terasa aneh dan begitu asing di telinga kita. Apakah Banggai merupakan sebuah nama  kota dan di mana letaknya, di Pulau Jawa, Sumatera atau di Pulau Sulawesi?  Dengan membuka peta, ternyata Banggai adalah nama daerah yang berada di Pulau Sulawesi, tepatnya ada di Provinsi Sulawesi Tengah yang Ibukotanya kota Palu. Nah, Banggai adalah wilayah kabupaten yang kota terbesarnya ialah Luwuk.

Kota Luwuk, pastinya banyak orang yang tidak tahu, namun kota ini memiliki bandara udara. Untuk mencapai ke kota Luwuk dari Jakarta, terdapat dua moda transportasi yang melayani ke kota tersebut, yaitu dengan menggunakan kapal laut serta kapal udara. Jika menggunakan kapal udara, tidak langsung menuju ke kota Luwuk. Melainkan transit terlebih dulu ke Makassar. Jadi rute penerbangannya: Jakarta – Makassar (transit dan bisajadi ganti pesawat)–Luwuk.

Terus, apakah yang menjadi perhatian kita terhadap Festival Sastra Banggai 2017  yang digelar selama tiga hari, 20-23 April 2017 di kota Luwuk?  Pertama festival sastra ini berskala Nasional dengan mengetengahkan pembicara yang mumpuni di bidangnya, serta mengaitkan dengan aspek lain, seperti dunia film, teristimewa dokumenter film. Dan, kedua adalah penyelenggaraanya di kota nun jauh di sana, yang jarak tempuhnya bergitu jauh dari Pusat Pemerintahan alias jauh dari Ibukota Republik Negeri ini.

Hal itulah yang patut dicatat tersendiri, apalagi festival sastra ini diusung komunitas sastra di kota Luwuk, salah satu ialah Komunitas Babasal Mombasa yang dipimpin Wahid Nugroho, seorang penggiat literasi. Komunitas pimpinan Wahid Nugroho  bergerak membuat rumah-rumah baca yang berdiri sampai ke pelosok kabupaten kepulauan Banggai. Gerakan inipun adalah gerakan membaca dan tentunya menebarkan kebaikan lewat buku.

Serangkaian acara digelar pada festival sastra yang bertema Rayakan Kata, Bumikan Ilmu, ini. Di antaranya, seminar yang menawarkan topik Budaya Lokal dalam Karya dengan menghadirkan pembicara Maman S. Mahayana, Guru Besar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Indonesia di Universitas Indonesia dan novelis yang karyanya sangat fenomenal : Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, yaitu Ahmad Tohari.

Acara lain seperti bincang-bincang dengan tokoh sastra, musikalisasi puisi, pemutaran serta diskusi film dokumenter dan monolog. Memang sebelum festival sastra ini digelar akhir April di Luwuk, terlebih dulu diadakan di Jakarta pada awal April, sebagai pengenalan. Pagelaran pengenalan ini menampilkan pertunjukan seni tutur Ba Ode, sebuah seni tutur masyarakat asli wilayah Banggai, Sulawesi Tengah. (Syamsudin Noer Moenadi , email nm.syamsudin@yaho.com)

About ibra

Check Also

Yo Sholat. Foto: Snm

Pangkalpinang, Kota Kita Bersama

Pangkalpinang, channelsatu.com: Seringkali saya salah ucap, juga kerap salah menyebut kota Pangkalpinang yang merupakan Ibukota …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *