Senin , 22 Juli 2019
Home / Showbiz / Film, Musik, TV / Akhlis Suryapati,” Sinematek Tidak Lagi Jadi Yang Terbesar di Asia Tenggara

Akhlis Suryapati,” Sinematek Tidak Lagi Jadi Yang Terbesar di Asia Tenggara

Suasana serah terima Kepala Sinematek dari dari Adisoerya Abdi  (kiri) ke Akhlis Suryapati (kanan). Foto: Ist.
Suasana serah terima Kepala Sinematek dari dari Adisoerya Abdi (kiri) ke Akhlis Suryapati (kanan). Foto: Ist.

Jakarta, channelsatu.com: Pusat Arsip dan Data Film Sinematek Indonesia tidak pernah terancam bangkrut, serta
mempunyai sumber dana untuk membiayai kelangsungannya. Demikian ditegaskan Kepala Sinematek Indonesia Akhlis Suryapati, dalam siaran persnya Rabu (3/6) di Jakarta, disela pergantian serah terima Kepala Sinematek dari Adisoerya Abdi ke Akhlis Suryapati.  

“Diawal  berdirinya,  Sinematek  yang  dirintis  oleh  Asrul  Sani  dan  Misbah  Yusa  Biran, mengandalkan modal dari dua tokoh itu, dengan para sukarelawan yang dihonor seadanya. Kini karyawan Sinematek bisa mendapatkan gaji layak, jaminan kesehatan, jaminan ketenagakerjaan, juga jaminan  pensiun,” kata  Akhlis  Suryapati.

“Tentu saja para karyawan itu selama ini, dari dulu sampai sekarang, terus melakukan pekerjaan yang berkaitan  dengan pengarsipan film dan data perfilman.” terangnya.

Akhlis  Suryapati  yang  juga  wartawan  dan  sutradara  film  mengatakan, jika saat ini Sinematek tidak lagi  terbesar di Asia Tenggara, itu  karena  negara  lain, seperti  Thailand, membangun pusat arsip dan data perfilman dengan dibiayai uang negara. Sinematek Indonesia adalah pusat arsip dan data film yang dikelola oleh swasta, Yayasan Pusat Perfilman H Usmar Ismail (YPPHUI).

“Saya kira YPPHUI mempunyai sumber dana yang membuat Sinematek tidak pernah terancam bangkrut,” kata Akhlis Suryapati.

“Masyarakat perfilman juga banyak partisipasi untuk kelangsungan Sinematek.” lanjutnya.

Adanya kadang-kadang semacam keluhan bahwa Sinematek kekurangan biaya atau tidak terkelola maksimal, itu lantaran orang mempunyai harapan yang besar dan tinggi kepada Sinematek Indonesia sebagai pusat arsip dan  data perfilman satu-satunya di Indonesia, serta yang pertama di Asia Tenggara.

Menurut Akhlis Suryapati, orang  sepandapat bahwa Sinematek keberadaannya sangat penting  dan  dibutuhkan  oleh masyarakat Indonesia maupun masyarakat internasional untuk riset, penelitian, referensi, pembelajaran,  dan lain sebagainya. Lalu orang membayangkan, harusnya Sinematek itu keren dengan gedung artistik megah  berlantai marmer, ruangan-ruangannya adem dan tenang untuk membaca, sinemanya menggelegar kalau dipakai
menonton film, gudang penyimpannya memiliki temperatur stabil sesuai standar pengarsipan film, dan fasilitas  pengarsipan serta penyimpanan data tersusun dalam filing-filing yang rapi, terjaga baik materi aslinya maupun  content filmnya terdigitalisasi dalam server, dan lain sebagainya. Mungkin seperti Perpustakaan Nasional yang baru itu.

“Lha, kalau tuntutannya seperti itu, yang Sinematek belum mampu mewujudkan. Duit dari Hong Kong,” katanya. “Tetapi sejauh saya dekat dengan Sinematek sejak zaman dipimpin Pak Misbah, Sinematek belum pernah terancam bangkrut. Kalau pernah mengalami masa-masa miskin, barangkali iya..” imbuhnya. (Ibra)

About Muhammad Bakti

Check Also

Turis asing. Foto: Dok. Puskomlik Kemenpar.

Kemenpar Sukses Jaring Wisatawan Timor Leste ke Indonesia Lewat Crossborder Music Festival Atambua 2019

Antambua, channelsatu.com: Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sukses menjaring wisatawan Timor Leste ke Indonesia lewat ajang Crossborder …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *